EZMA
Terdiam. Sesekali aku menghela nafas, keringatku basah disekujur tubuh. Baru sampai lantai 39 (ratap kosong ke depan) mengingat masih ada 12 anak tangga lagi yang harus ku naiki. Hanya teringat pada wajah ibuku yang sayu, kaki ku masih kuat berjalan ke atas sana. Lift di kantor ini tak berfungsi, busuk semua. Tak ada teknisi yang mau datang ke kantor kami, mereka mengeluh bayaran tahun lalu saja belum lunas. Aku melihat isi air minum di botol minum ku yang sudah bau busuk, karena sudah lama tak ku cuci. Air di rumah kami sedang kosong, tak punya uang lagi untuk mengisi tong yang ada di dapur ibu. Tubuhku sudah kebal dari virus, kuman yang ada dalam tubuh ini semua sudah menjadi bagian dari diriku. Kulanjutkan perjalanan ke lantai 51. Tap.. Tap.. Tap.. Srukkkkkkk gubrakkk.. Pecah dan tumpah semua. Air mataku tiba-tiba mengalir deras, melihat semua dagangan ku berserakan tumpah ke bawah, tak bersisa. Plastiknya ikut jatuh ke dasar anak tangga. Tangisku pecah, sudah 39 lantai k...