EZMA
Terdiam.
Sesekali aku menghela nafas, keringatku basah disekujur tubuh. Baru sampai lantai 39 (ratap kosong ke depan) mengingat masih ada 12 anak tangga lagi yang harus ku naiki. Hanya teringat pada wajah ibuku yang sayu, kaki ku masih kuat berjalan ke atas sana. Lift di kantor ini tak berfungsi, busuk semua. Tak ada teknisi yang mau datang ke kantor kami, mereka mengeluh bayaran tahun lalu saja belum lunas. Aku melihat isi air minum di botol minum ku yang sudah bau busuk, karena sudah lama tak ku cuci. Air di rumah kami sedang kosong, tak punya uang lagi untuk mengisi tong yang ada di dapur ibu. Tubuhku sudah kebal dari virus, kuman yang ada dalam tubuh ini semua sudah menjadi bagian dari diriku.
Kulanjutkan perjalanan ke lantai 51.
Tap.. Tap.. Tap.. Srukkkkkkk gubrakkk.. Pecah dan tumpah semua.
Air mataku tiba-tiba mengalir deras, melihat semua dagangan ku berserakan tumpah ke bawah, tak bersisa. Plastiknya ikut jatuh ke dasar anak tangga. Tangisku pecah, sudah 39 lantai ku naikki. Tuhan tak berpihak padaku, semua yang harus ku jual hasil dari jerih payah ibu di rumah, tumpah! (BODOH!!!!) Teriakku pada diri sendiri. Menangis seperti orang gila aku di sudut tangga. Tak mungkin aku kembali lagi ke bawah mengambil semua makanan itu.
Satu jam berlalu.
Aku kebingungan sambil berjalan terus ke lantai 51, entah apa yang ada di dalam otak ku selain kesal pada diri ini. Namun, lagi-lagi aku teringat dengan biaya sewa, hutang rentenir, dan juga cicilan beras yang setiap hari harus dibayar. Air mataku tumpah kembali, tak henti-hentinya aku menyumpahi ayahku yang sialan itu. Laki-laki gila yang sudah memberikan darah dalam tubuh ku ini. Aku jijik dan benci jika mengingatnya.
Tiba di lantai 51.
Cekreekkkk.. Dummmm..
Masuk ke ruangan VIP, semua karyawan sedang sibuk menatap layar komputer di hadapan masing-masing. Pakaian nya ada yang bercorak, hitam putih, belahan dada terbuka, kemeja keluar, rambut blow, dan lain sebagainya. Aku langsung ke dapur kemudian melihat dua insan itu berzina lagi. Sampah! Teriakku. Kenapa aku selalu sial melihat mereka sedang berbuat mesum di tempat seperti ini. Kantor macam apa ini?????? Kesalku pada tempat itu. Ku banting piring dan gelas yang ada di pantry kemudian mereka kaget bukan main dan memakai pakaiannya masing-masing. Perempuan jahanam itu masuk ke toilet sementara laki-laki sialan tadi membenarkan resleting celananya dan mengambil uang segepok dari dalam sakunya.
"SAMPE LO NGASIH TAU YANG LAIN, GW BUNUH NYOKAP LO!!! NIH AMBIL DUITNYA. LO MAU DUIT KAN?? AMBIL NIH! SAMPAH" dia pun pergi meninggalkan aku yg hanya bisa menangis memegang erat uang tersebut. Sementara wanita jalang itu, belum selesai dari kamar mandi, seperti biasa. Dia menunggu ku pergi dari pantry karena malu wajahnya ku lihat.
Keluar ruangan lewat tangga lagi.
Cekreeeekkkkkk druuummpphhhh..
Sontak semua mata tertuju padaku yang menutup pintu sangat keras. Mereka bertanya apa yang selalu aku lakukan di dalam kantornya dan pergi begitu saja. Aku duduk di lantai 30 sambil menghitung uang yang diberikan laki-laki tadi, seperti yang sudah ku duga jumlahnya ada 10juta rupiah. Bukan baru sekali aku memergoki laki-laki sialan itu bersetubuh dengan wanita, melainkan ratusan kali. "Fyuhhhh.. Cukup, cukup utk kebutuhan ku 6 bulan ke depan"
Bersambung~
Komentar
Posting Komentar